Jumat, 25 November 2016

Sejarah Desa Bulu Sukomoro


Desa Bulu



Desa Bulu berada di kec. Sukomoro kab. Magetan, Jawa Timur. Desa Bulu, iya itu namanya, aneh memang begitu didengar, namun sayangnya aku tidak tahu pasti bagaimana asal usul desa Bulu. Banyak orang yang berkata bahwa, dahulu kala ada sebuah pohon yang sanat rimbun dan besar dan didalam pohon tersebut terdapat ular yang sangat besar. Pohon itu berada punden (tempat kerajaan pembabat desa Bulu )katanya itu adalah pohon bulu. Tidak nyambung memang antara asal usul dengan nama yang diberikan, jadi entah asal usul tersebut benar atau tidak.
Masyarakat desa Bulu memiliki ritual khusus setiap tahunnya. Pada saat bulan syura masyarakat desa Bulu berbondong-bondong pergi ke punden untuk melaksanakan selamatan. Acara tersebut dimeriahkan dengan hiburan gambyong. Ritual ini tidak boleh dilaksanakan pada akhir bulan syura, kalau tidak awal juga tengah-tengah bulan. Ritual ini dipercaya, jika tidak dilakukan maka akan menimbulkan bencana besar bagi desa Bulu.
Di Desa Bulu tidak mempunyai makanan khas, namun masyarakat desa Bulu memiliki keatifitas untuk mengembangkan makanan khas daerah magetan yaitu, kerupuk lempeng dan nasi pecel. Selain itu masyarakat desa Bulu juga banyak yang memiliki usaha home industri diantaranya adalah produksi tempe, jengkol, dan gatot. Produksi yang dikembangkan di Desa Bulu sebagian besar berasal dari palawija dan umbi-umbian.
Di Desa Bulu terkenal dengan hamparan tanaman tebu berhektare-hektare. Selai bekerja di home industri, masyarakat desa Bulu juga memiliki profesi sebagai petani dan buruh tani. Mereka bekerja disesuaikan dengan musim yang sedang terjadi. Jika dimusim kemarau warga desaku bekerja dibidang home idustri, namun jika dimusim penghujan warga desaku melakukan cocok tanam.
Masyarakat desa Bulu memiliki keramahan, kesopanan, dan toleransi yang tinggi, memang ada yang egois tapi itu hanya sedikit. Warga desaku memiliki keahlian dan cara bergaul yang berbeda-beda. Meskipun demikian mereka semua tetap memiliki kekompakan yang tinggi. Mereka menilai bahwa, justru perbedaan inilah yang dijadikan keadaan saling melengkapi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar